News

Eks Komandan Marinir Suharto Ternyata Pernah Digarap TGPF soal Kerusuhan Mei 98

Jakarta – Aktivis Ham dan Mantan Anggota TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta Kasus Kerusuhan 1998) Sandyawan Sumardi mengaku pernah memeriksa mantan Dankormar Mayjen TNI Purn (Mar) Suharto terkait kerusuhan Mei 1998.

“H. Mayjen TNI Suharto kita periksa terkait kapasitas dia sebagai komandan marinir yang paling tinggi dimana marinir juga merupakan pasukan tempur milik TNI meskipun tidak seistimewa TNI AD,” ungkap Sandyawan Sumardi, hari ini.

Selain Suharto, lanjut Sandyawan, TGPF juga memeriksa pejabat-pejabat dari militer dan sipil untuk didengarkan kesaksiannya guna dimintai pertanggungjawaban dalam tugasnya untuk mengungkapkan kerusuhan Mei 1998. Pejabat yang terkait yang bertanggungjawab pada saat kerusuhan 13-15 Mei 1998, yaitu Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin (pangdam Jaya pada saat kerusuhan), Mayjen (Pol) Hamami Nata (Kapolda Metro Jaya pada saat keruuhan), Mayjen TNI Sutiyoso Gubernur (KDKI Jakarta), Mayjen TNI Zacky Anwar (Kepala BIA), Letjen TNI Parbowo Subianto (Pangkostrad pada saat kerusuhan), Fahmi Idris (Tokoh Masyarakat), Brigjen TNI Sudi Silalahi (Kastaf Kodam Jaya), Kolonel (Inf) Tri Tamtomo (Asops Kodan Jaya), dan Jenderal TNI Subagyo HS (KASAD/Mantan Ketua DKP).

“Berkas pemeriksaan terhadap mereka sudah kita serahkan kepada Kejaksaan Agung dan Presiden BJ Habibie,” sebutnya.

Dia melanjutkan kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang dibuat oleh oknum yang mempunyai kekuasaan dan bermula dari krisis ekonomi dan krisis moneter. Menurutnya, peristiwa itu dianggap mirip dengan saat ini namun tidak ada yang menggerakkan seperti tahun 1998.

“Orang yang harus bertanggung jawab pada kerusuhan 1998 adalah Wiranto dan Prabowo. Akan tetapi kedua orang tersebut selalu saling melempar tanggung jawab,” ucapnya.

Dia menjelaskan tiga fakta di lapangan terdapat tiga pola kerusuhan, yaitu pertama, kerusuhan bersifat lokal, sporadis, terbatas dan spontan, berlangsung dalam waktu relatif singkat dan dengan skala kerugian serta korban yang relatif kecil. Kerusuhan dengan pola seperti ini terjadi karena situasi sosial-ekonomi-politik yang secara obyektif sudah tidak mungkin dicegah.

“Kedua, kerusuhan bersifat saling terkait antar-lokasi, dengan model yang mirip provokator dalam jenis kerusuhan ini berperan lebih menonjol dibanding jenis kerusuhan pertama,” katanya.

Lebih lanjut, Sandywan mengatakan mereka bukan berasal dari lokasi yang bersangkutan. Kemudian, ada kemiripan, atau bahkan keseragaman waktu dan urutan-urutan kejadian. Karena jenis kerusuhan ini skalanya besar, dan beberapa tempat, bahkan mengindikasikan berlangsung secara berurutan secara sistematik. Namun, belum ditemukan indikasi bahwa kerusuhan jenis ini direncanakan dan pecah secara lebih luas daripada sekedar bersifat lokal yang berurutan.

Terakhir, sambung dia, terdapat indikasi bahwa kerusuhan terjadi karena sengaja. Unsur kesengajaan lebih besar, dengan kondisi objektif yang sudah tercipta. Jenis kerusuhan ini umumnya mirip dengan jenis kedua, tetapi unsur penumpangan situasi jauh lebih jelas. Pada jenis atau pola ketiga ini, diduga kerusuhan diciptakan sebagai bagian dari pertarungan politik di tingkat elite.

“Temuan dilapangan, ternyata banyak pihak yang berperan di semua tingkat, baik sebagai massa aktif maupun provokator untuk mendapatkan keuntungn pribadi maupun kelompok atau golongan, atas terjadinya kerusuhan,” bebernya.

“Kesimpulan ini merupakan penegasan bahwa terdapat keterlibatan banyak pihak, mulai dari preman lokal, organisasi politik dan massa, hingga adanya keterlibatan sejumlah anggota dan unsur di dalam ABRI yang di luar kendali dalam kerisuhan ini. Mereka mendapatkan keuntungan bukan saja dari upaya secara sengaja untuk menumpangi kerusuhan, melainkan juga dengan cara tidak melakukan tindakan apa-apa. Dalam konteks inilah, ABRI tidak cukup bertindak untuk mencegah terjadinya kerusuhan, padahal memiliki tanggung jawab untuk itu. Di lain pihak, kemampuan masyarakat belum mendukung untuk turut mencegah terjadinya kerusuhan,” tandasnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Garisdua sebuah portalmedia untuk merawat kebersamaan menghindari perpecahan.

Copyright © 2015 Garisdua.com.

To Top
Close