News

Pengamat Kembali Blak-Blakan Bongkar Konspirasi MCA di Tahun Politik Ini

Jakarta – Pengamat Politik yang enggan disebutkan namanya kembali hadir menguncang jagat dunia maya. Setelah pekan lalu memunculkan tulisan membongkar strategi licik Muslim Cyber Army (MCA) jilid I kini kembali hadir.

Dia blak-blakan bongkar borok tim MCA. Tim MCA, kata dia, memiliki susunan kepengurusan seperti Ketua selaku pengendali dan para kader-kader militannya untuk mendukung gerakan sebar tulisan, tumbangkan akun lawan maupun upaya lainnya.

Konon para kader MCA tersebut didominasi sebagian dari ormas Front Pembela Islam (FPI).

“Fakta ini bisa dilihat dari beberapa postingan di beberapa media sosial bahwa banyaknya tokoh-tokoh besar FPI kerap menghimbau untuk seluruh anggotanya khususnya yang tergabung dalam MCA untuk melakukan jihad melalui media sosial,” jelas dia, hari ini.

Dia kembali menjelaskan bahwa menjelang tahun politik 2019 ini mereka panen proyek yakni banyak mengambil peran pentingnya melalui media sosial khususnya akan banyak menyebarkan pemberitaan, tulisan, meme yang belum bisa dipertanggung jawabkan kebenaran dan sumbernya alias belum akurat.

“Blak-blakan aja lah, mereka gerilya gunakan akun fiktif kok untuk dikelola dengan menyebarkan berita negatif terlebih berita hoax pada media sosial untuk menyerang tokoh-tokoh politik yang turut serta pada kontestasi pilkada 2018,” bebernya.

Masih kata dia, ada penyesuaian dengan situasi dan kondisi politik yang terjadi di masing-masing daerah. Kata dia, jika misalnya di pilkada Jabar, tidak ada calon non muslim seperti di DKI, maka isu yang dipergunakan adalah Partai pengusung penista agama, LGBT, dan isu PKI pun juga turut dikemas untuk menjatuhkan partai yang berkuasa saat ini.

“Isu itu akan agama dan sara pastinya akan dipakai sebagai standarisasi yang sama. Partai pengusung penista agama, itu nanti yang akan digunakan jangan pilih calon kepala daerah yang diusung oleh partai pendukung penista agama. Itu salah satunya nanti yang akan digunakan, tidak menutup kemungkinan kelompok MCA tersebut akan digunakan oleh kelompok oposisi pemerintah dalam Pilpres 2019,” jelasnya.

Dia memastikan kaitan Pilkada serentak 2018 yang mana juga mendekati tahun politik 2019 akan menjadikan medsos sebagai arena kampanye positif yang dimunculkan untuk mengedepankan program dari masing-masing paslon. Kata dia, kampanye negatif pastilah sering diangkat terkait kesalahan untuk menjatuhkan kredibilitas paslon serta black campaign yang bisa dikatakan berita hoak atau fitnah yang belum jelas kebenaran dan sumbernya dijadikan komoditi untuk saling menjatuhkan kompetitornya.

“Media massa saat ini memberikan peran penting dalam menyebarluaskan informasi kepada publik serta dengan pemberitaan yang miring terkait salah satu paslon dalam pilkada. Ini dapat menggiring opini masyarakat dan akan dapat mempengaruhi stigma pembaca untuk cenderung memberikan pilihan terhadap figur masing-masing paslon,” terang dia lagi.

Lebih jauh, dia menyebutkan bahwa MCA akan terus melakukan konspirasi dengan memproduksi mengangkat isu-isu sensitif untuk menjatuhkan citra pemerintah.

“Coba tengok di pemberitaan dan postingan pada media sosial khususnya pada instagram. Hampir 90% didominasi tokoh dari FPI yang beranggapan bahwa selalu di kriminalisasi oleh rezim penguasa,” tandasnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Garisdua sebuah portalmedia untuk merawat kebersamaan menghindari perpecahan.

Copyright © 2015 Garisdua.com.

To Top
Close